KETIKA gadis-gadis seusianya riang menikmati masa remajanya, bermain, bersekolah atau aktifitas lainnya bersama teman sebaya, Mariana, 16 tahun, hanya bisa duduk bersandar tanpa bisa apa-apa. Gadis warga Dusun Tempajang, Desa Bungaya, Kecamatan Bebandem Karangasem ini hanya bisa menerawang membayangkan keceriaan yang kini terenggut darinya.
Sejak empat bulan lalu separuh tubuhnya layu diserang kelumpuhan. Jangankan untuk berjalan, berdiri, makan dan minum pun pun ia harus dibantu orang lain. Sehari-harinya ia hanya bisa bersandar di dinding rumahnya. Wajah manisnya seolah tertutupi oleh tangan dan kakinya yang tak bisa bergerak. Hanya telapak tangannya yang sesekali bergetar-getar.
Informasi yang diperoleh dari mitra Ukhuwwah di Karangasem, kelumpuhan itu menyerang Mariana usai berobat untuk menyembuhkan matanya yang sempat tidak bisa melihat. Mariana sendiri tak tahu apa yang menyebabkan matanya tak bisa melihat.
“Awalnya Mariana mengalami gangguan penglihatan, lantas oleh keluarganya ia dibawa ke dokter. Setelah diberi suntikan dalam beberapa hari tiba-tiba tubuhnya lumpuh,” kata H Nuruddin, mitra Ukhuwwah di Karangasem.
Kian hari lumpuhnya semakin menjadi. Melihat kondisi Mariana yang semakin memburuk, membuat orang tuanya kebingungan. Penghasilan sebagai buruh tani jelas pas-pasan. Untuk makan sehari-hari saja sudah mepet apalagi untuk biaya pengobatan. Demi kesembuhan anaknya, orang tua Mariana pun merelakan sapi miliknya yang hanya seekor dijual untuk biaya pengobatan.
Namun, karena keterbatasan biaya, orang tua Mariana memutuskan untuk membawa ke tukang pijat tradisional. Namun bukan kesembuhan yang diperoleh, justru separuh tubuh bagian kanannya semakin melunglai tak bisa digerakkan.
Kini, orang tua Mariana hanya bisa pasrah menunggu uluran bantuan dari para dermawan. Menurut paman Mariana, Syahman, sejauh ini kesehatan Mariana memang tidak ada gangguan, namun kelumpuhan yang dideritanya benar-benar menggelisahkan. Mariana yang kesehariannya sendiri di rumah, karena ditinggal ke sawah oleh orang tuanya hanya duduk termangu di dalam rumah.
“Ya, sejauh ini kondisinya memang sehat, tapi kami sekeluarga sedih dengan kelumpuhan yang diderintanya. Kami sekarang hanya bisa menunggu uluran tangan dermawan yang sudi membantu,” kata Syahman saat dihubungi Ukhuwwah. (nang)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar